Artikel

Batik Eksklusif: “Les Miserables” in Epic Musical Film

Ini film memang benar-benar “edan” dalam arti harfiah! Mencoba membawa teater broadway ke layar berukuran 20 X 11 meter di berbagai bioskop di seluruh dunia. Mungkin? Ya, mungkin saja. Didukung dengan akting para aktornya yang memang brilian: Hugh Jackmann (yang ternyata suaranya bagus juga pas nyanyi opera), Russel Crowe (yang walaupun suaranya nggak bagus-bagus amat tapi aktingnya has been sparkling as ever), Anne Hathaway (yang aktingnya pas lagi bagus kayak di film dia yang Rachel Getting Married), dan sederet artis-artis lainnya.

For me, the best actor of all in this film is Colm Wilkinson. Akting yang didukung dengan suara paling menyentuh dibuktikannya dengan menjadi Monseigneur Myriel, pastor di sebuah gereja. Benar-benar aku merinding dibuatnya! Dengan kemunculan yang tidak lebih dari 15 menit, dia berhasil menghipnotisku dan sempat membuat mata berkaca-kaca. Di tangannya, nyanyian dalam akting bukanlah sesuatu yang terpisah, tapi sesuatu yang memang ada di dalamnya dan memperkuat akting itu sendiri. Hanya dari suaranya saja, aku bisa merasakan apa yang ingin dia ciptakan dalam karakter itu. Persis seperti pemain drama musikal radio, dengan tambahan akting yang brilian pula. Bravo!

Seperti yang sudah ada di artikel sebelumnya, film ini memang adaptasi dari novel Les Miserables yang sangat terkenal itu. Tahun 1998 pun novel itu pernah difilmkan dengan Geoffrey Rush sebagai pemeran utamanya. Tapi film 2012 yang menang beberapa Golden Globe –beberapa di antaranya untuk Pemeran Utama Pria Terbaik (Hugh Jackmann) dan Pemeran Pendukung Wanita Terbaik (Anne Hathaway) ini– berbeda dengan pendahulunya itu dari segi isi cerita. Film tahun ini lebih “patuh” pada novel aslinya.

Peran Cosette pun –yang tentunya aku tunggu-tunggu selalu– dibuat tidak terlalu banyak dan krusial karena cerita ini lebih fokus pada Jean Valjean, seorang mantan narapidana yang masih selalu dikejar-kejar oleh Javert (Russel Crowe), aparat penegak hukum kala itu. Tapi tetap saja cerita cinta Cosette (Amanda Seyfried) dan Marius (Eddie Redmayne) tampil “so sweet” banget di akhir cerita. Meskipun Cosette tidak banyak muncul, tapi perannya paling krusial dalam menentukan jalan cerita film ini. Aneh, bukan? Dan Amanda bisa melakukannya dengan sangat baik, menurutku. Dengan karakter Cosette yang memang bak putri, tak banyak gejolak –yah, semacam karakter baik yang lempeng-lempeng aja– akting Amanda bisa banyak memberi arti di sini sehingga Cosette tidak “outshined” dan tenggelam oleh karakter lainnya –yang dimainkan oleh para aktor dan aktris yang lebih berpengalaman, tentu saja.

Jadi punya ide: mungkin nggak ya bikin drama musikal kayak gini di Indo dengan outfit semua batik? Batik eksklusif dari Cossette Apparel? Fufufu… ide bagus! Well, in short, Les Miserables is a really-worthy-to-watch movie in the opening of 2013 ahead. Trust me! [D.A. Rohmatika]

No comments yet... Be the first to leave a reply!

Leave a Comment

 

— required *

— required *